Senin, 04 Mei 2015

Wayang Kulit Budaya Jawa

Assalamu'allaikum Wr.Wb

Kali ini saya akan mengulas tentang kebudayaan terutama budaya Jawa. Budaya Jawa itu apa sih? Menurut Wikipedia…

Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa Timur.

            Pada kesempatan ini saya akan menjeklaskan tentang budaya Jawa, yaitu Wayang. Yuk kita simak bareng-bareng….


Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata 'MaHyang' yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna 'bayangan', hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalangyang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balikkelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.

Jenis-jenis wayang kulit berdasarkan daerah :
·         Wayang Kulit Cengkok Kedu
·         Wayang Kulit Gagrag Yogyakarta
·         Wayang Kulit Gagrag Surakarta
·         Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
·         Wayang Kulit Gagrag Jawa Timuran
·         Wayang Bali
·         Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan)
·         Wayang Palembang (Sumatera Selatan)
·         Wayang Betawi (Jakarta)
·         Wayang Kulit Cirebon (Jawa Barat)

·         Wayang Madura (sudah punah)

Sejarah Kesenian Wayang Kulit


Sejarah asal usul kesenian wayang kulit, seperti disebut diatas, tidak bisa lepas dari sejarah wayang sendiri. Tidak ada bukti konkret tentang adanya wayang sebelum abad pertama, dimana ini bertepatan dengan munculnya ajaran Hindu dan Buddha ke area Asia Tenggara. Hal ini dipercaya menjadi hipotesa bahwa seni ini datang dari India ataupun Tiongkok, dimana kedua negara tadi memiliki tradisi yang telah berjalan turun-temurun tentang penggunaan bayangan boneka atau pertunjukkan teater secara keseluruhan. Jivan Pani juga pernah mengeluarkan pendapat bahwa wayang berkembang dari dua jenis seni yang berasal dari Odisha, India Timur, yaitu Ravana Chhaya yang merupakan sebuah teater boneka dan tarian Chhau. Meski begitu, banyak juga penceritaan sejarah wayang yang memiliki dampak besar terhadap perkembangan teater boneka tradisional.

Catatan sejarah pertama tentang adanya pertunjukkan wayang mengacu pada sebuah prasasti yang bisa dilacak berasal dari tahun 930, yang mengatakan si Galigi mawayang. Saat itulah sampai sekarang, beberapa fitur teater boneka tradisional tetap ada. Galigi sendiri merupakan seorang penampil yang sering dimintai untuk menggelar pertunjukkan ketika ada acara atau upacara penting. Pada saat itu, ia biasanya membawakan sebuah cerita tentang Bima, seorang ksatria dari kisah Mahabharata. Penampilan yang dibawakan oleh Galigi tercatat dalam kakawin Arjunawiwaha yang dibuat oleh Mpu Kanwa pada tahun 1035 yang mendiskripsikannya sebagai seorang yang cepat, dan hanya berjarak satu wayang dari Jagatkarana. Kata jagatkarana merupakan sebuah ungkapan untuk membandingkan kehidupan nyata kita dengan dunia perwayangan, dimana Jagatkarana yang berarti penggerak dunia atau dalang terbesar hanyalah berjarak satu layar dari kita.

Memang tidak banyak literatur yang menjelaskan tentang sejarah asal usul kesenian wayang kulit, meski begitu salah satu anak bagian dari seni wayang ini telah diakui sebagai karya kebudayaan yang amat berharga di bidang narasi oleh UNESCO di tanggal 7 November 2003. Hal ini mungkin menjadi pertimbangan bagi UNESCO karena dari seluruh jenis wayang yang ada, wayang kulit merupakan salah satu jenis wayang yang paling dikenal di Indonesia. Wayang ini terbuat dari kulit hewan yang menjadi bahan utama jenis wayang yang digunakan dalam pertunjukkan ini.

Dalam cerita wayang Jawa, hidup sebuah keluarga karakter yang disebut Punakawan. Punakawan ini terdiri dari empat orang dan selalu dianggap sebagai pengikut jenaka dari pahlawan yang menjadi karakter utama sebuah cerita. Keempat orang ini adalah Semar yang juga dikenal dengan nama Ki Lurah Semar, Petruk, Gareng, dan juga Bagong. Semar sendiri sering digambarkan sebagai personifikasi dewa, dan kadang juga digambarkan sebagai arwah penjaga dari pulau Jawa itu sendiri. Dalam mitologi Jawa, dewa-dewa yang ada hanya mampu mengubah diri mereka menjadi manusia yang jelak, karena ini juga Semar selalu digambarkan sebagai seseorang yang jelek dan gendut, serta memiliki hernia yang menggantung.

Dalam sejarah asal usul kesenian wayang kulit, wayang kulit sendiri terbagi menjadi beberapa jenis dan satu di antaranya adalah wayang kulit Gagrag Banyumasan. Untuk wayang kulit jenis ini adalah sebuah gaya pedalangan yang juga dikenal dengan nama pakeliran. Gaya ini dinilai sebagai cara untuk mempertahankan nilai, dimana perawatan dan kualitas yang mereka tunjukkan di panggung selalu menunjukkan hal ini. Unsur-unsur yang ada dalam pakeliran adalah: lakon, sabet (gerakan yang akan dilakukan oleh para wayang), catur (narasi dan percakapan antara karakter), serta karawitan yang berarti musik.

Contoh lain dari pembagian jenis wayang kulit lainnya wayang kulit Banjar, yang sesuai namanya berkembang di Banjar, Kalimantan Selatan. Masyarakat kerajaan Banjar awalnya memang telah mengenal seni wayang kulit ini dimulai dari awal abad ke-14. Pernyataan ini menjadi jauh lebih kuat ketika Majapahit akhirnya berhasil menduduki beberapa bagian wilayah Kalimantan dan membawa misi untuk menyebarkan agama Hindu menggunakan taktik untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit.

Contoh lain lagi ialah wayang siam yang terkenal di Kelantan, Malaysia. Wayang Siam sendiri merupakan sebuah pertunjukkan wayang one man show, dimana bahasa-bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu. Dari awal, tidak ada bukti yang jelas tentang kemunculan pertama wayang siam, jadi orang-orang berpendapat bahwa kesenian ini berasal dari jawa, mengikut simbol-simbol yang sangat bercorak Jawa.

Di masa sekarang ini, ketertarikan anak muda akan kesenian wayang kulit bisa dinilai sangat rendah, mengingat banyaknya permainan berbasis teknologi yang bisa mereka mainkan. Meski begitu, masih banyak juga orang tua yang dengan aktif mengajarkan anaknya untuk mengapresiasi salah satu karya seni tradisional Indonesia ini, dan hal tersebutlah yang dibutuhkan untuk memajukan wayang kulit di masa ini.

Dalang Wayang Kulit



Dalang adalah bagian terpenting dalam pertunjukan wayang kulit (wayang purwa). Dalam terminologi bahasa jawa, dalang (halang) berasal dari akronim ngudhal Piwulang. Ngudhal artinya membongkar atau menyebar luaskan dan piwulang artinya ajaran, pendidikan, ilmu, informasi. Jadi keberadaan dalang dalam pertunjukan wayang kulit bukan saja pada aspek tontonan (hiburan) semata, tetapi juga tuntunan. Oleh karena itu, disamping menguasai teknik pedalangan sebagai aspek hiburan, dalang haruslah seorang yang berpengetahuan luas dan mampu memberikan pengaruh.


Dalang-dalang wayang kulit yang mencapai puncak kejayaan dan melegenda antara lain almarhum Ki Tristuti Rachmadi (Solo), almarhum Ki Narto Sabdo (Semarang, gaya Solo), almarhum Ki Surono (Banjarnegara, gaya Banyumas), almarhum Ki Timbul Hadi Prayitno (Yogya), almarhum Ki Hadi Sugito (Kulonprogo, Jogjakarta),Ki Soeparman (gaya Yogya), Ki Anom Suroto (gaya Solo), Ki Manteb Sudarsono (gaya Solo), Ki Enthus Susmono, Ki Agus Wiranto, almarhum Ki Suleman (gaya Jawa Timur). Sedangkan Pesinden yang legendaris adalah almarhumah Nyi Tjondrolukito.

Daftar Pustaka :

Cinta Kasih Kepada Orangtua

Assalamu'allaikum. Wr.Wb

Pada postingan kali ini saya akan menjelaskan tentang cinta kepada orangtua. Bahwasannya jika tidak ada orangtua kita tidak akan hidup di dunia ini. Mari kita simak artikel dibawah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.



Dalam Islam kedudukan seorang ibu amat dimuliakan, bahkan dikatakan bahwa surga ada dibawah telapak kaki ibu. Bahkan seorang ibu dilebihkan nilai kebaikannya sampai 3 kali dari seorang ayah. Jika demikian, seberapa besar sebenarnya cinta ibu yang diberikan kepada anak-anaknya? Berikut ini pembahasan secara mendetail tentang masalah ini yaitu “Cinta Ibu Kepada Anak nya”.

Bentuk nyata Cinta kepada Ibu

Cobalah kita renungkan bersama ketika Ibu mengandung kita kurang lebih selama 9 bulan lamanya. Tidak kah kita akui bahwa betapa letihnya ia membawa kita kemanapun ia pergi, dalam kondisi apapun ia kita ada untuk selalu menyulitkan serta memberatkan setiap gerak langkahnya.  Lantas pernahkan ia menagih kita atas apa yang ia berikan ketika kita telah dewasa kini? Bukankah ini menunjukkan betapa besar Cinta ibu kepada kita?

Saat ibu melahirkan, penderitaannya tak berkurang jua. Ketika seorang ibu melahirkan anaknya, waktu itu adalah sebuah taruhan antara hidup dan kematiannya. Ia menahan sakit yang tak terperikan agar kita lahir ke dunia. Bukan kah ia pula yang telah merawat kita saat kita balita. Ia dengan senang hati membersihkan kotoran dan menyuapkan makanan ke mulut kita? Sekali lagi ini adalah bukti cinta ibu kepada anakya.

Saat kita sekolah, kira-kira berapa sering seorang ibu menghkhawatirkan akan kepentingan anaknya tak terpenuhi. Ia khawatir dikala sang anak tak sama dengan yang lain, ia khawatir dikala anaknya tak membawa uang saku saat berangkat sekolah sehingga merasa minder dari teman-teman yang lain. Ia khawatir sang anak tak dapat mengikuti ujian atau Raport nya tidak dibagikan karena belum membayar iuran sekolah yang telah tertunggak. Pernahkah kita renungkan akan hal ini?

Apa yang kita lakukan untuk membalas cinta Ibu

Telah kita renungkan bersama bahwa cinta ibu kepada kita amatlah besar. Lantas apa saja yang telah kita lakukan untuk membalas kebaikannya? Tentu jika ada yang bertanya „Bagaimana cara seorang anak dapat membalas semua kebaikan ibu nya?” Tentu tak akan ada jawaban yang memuaskan karena cinta seorang ibu tak kan pernah dapat kita balas. Akan tetapi seorang anak bisa melakukan sesuatu sebatas yang ia mampu lakukan dan memang Islam Syariatkan. Diantara yang dapat kita lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita salah satunya ibu kita tercinta adalah:

Hendaknya seorang anak senantiasa mendoakan ibunya agar ia mendapatkan kebaikan baik di dunia maupun diakhirat. Kemudian ia pun sebisa mungkin meringankan beban sang ibu ketika membutuhkan bantuan atau mendapatkan kesulitan. Kemudian seroang anak pun bisa bersedekah untuk kedua orang tua terlebih ketika mereka telah tiada.

“Adalah suatu kebahagiaan dan keberuntungan ketika seorang anak dapat setiap saat bertemu dan berkumpul dengan orang tua tercinta. Dan adalah sebuah ujian dan pengorbanan ketika seorang anak harus rela terpisah dengan orang tua tercinta demi masa depan dan kehidupannya yang lebih baik. Namun semuanya adalah suatu ketetapan serta kehendak-Nya yang harus kita jalani dengan penuh sabar dan ikhlas. Semuanya akan terasa indah jika saja cinta dan kasih sayang tertancap kuat dalam hati serta jiwa kita. Semuanya akan bisa kita nikmati dan syukuri selama kita meyakini bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya, Dan apapun serta bagaimanapun jalan hidup kita, sesungguhnya itulah yang terbaik bagi kita di sisi Allah.”



Keutamaan Berbakti Kepada Orangtua di dalam Islam

Selain birrul walidain merupakan kewajiban bagi setiap Muslim atau Muslimah, birrul walidain mempunyai banyak keutamaan di dalam Islam. Kalau kita gali dan telaah banyak keterangan baik itu dalam Al Quran maupun hadist yang disampaikan oleh Rasululloh Sholallohu’alaihi wa salla kepada kita tentang keutamaan birrul walidain di dalam Islam. Di antara keutamaan tersebut adalah:

1. Berbakti Kepada Orangtua menjadi salah satu sebab panjangnya umur dan melimpahnya rezeki

Dalam sebuah hadist, Rasululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam pernah menjelaskan tentang masalah ini yang artinya:

“Dari Anas bin Malik dia berkata, Rosululloh bersabda. Barangsiapa yang menginginkan untuk dipanjangkan umur baginya dan ditambah rezekinya, maka hendaklah berbakti pada kedua orang tuanya serta menyambung silaturahmi.” (HR. Ahmad)

2. Berbakti Kepada Orangtua merupakan salah satu wasilah/perantara untuk menghilangkan bencana dan kesempitan yang melanda.

Semua orang tentu pernah merasakan yang namanya bencana dan kesempitan hidup, kesusahan serta masalah yang datang silih berganti tida henti menghapiri. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan imam Muslim dari Abdulloh Ibnu Umar yang menceritakan tentang kisah 3 orang yang terjebak di dalam gua. Di antara 3 orang tersebut ada satu orang yang bertawassul dengan birrul walidainnya kepada orang tuanya.

Seorang dari mereka berkata yang artinya: “Ya Alloh , aku memiliki orang tua yang telah renta serta lanjut usianya dan aku tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah aku mencari kayu – yang dimaksud adalah daun-daunan untuk makanan ternak. Aku belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya akupun terus memerah minuman untuk keduanya dan ketika keduanya aku temui ternyata telah tertidur telah tidur. Aku enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya aku tetap dalam keadaan menunggu mereka bangun dari tidurnya dan gelas itu tetap pula di tanganku, sehingga fajarpun menyingsing, Anak-anak kecil pun sama mereka menangis karena kelaparan sedang mereka berada di dekat kedua kakiku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Alloh , jikalau aku mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhoan-Mu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutupi ini.” Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.

Dari penggalan hadits tersebut jelas bahwa birrul walidain bisa menjadi sarana bertawassul kepada Alloh Subhanahuwata’ala untuk menghilangkan segala bencana yang melanda kita.

3. Berbakti kepada orangtua adalah salah satu sebat mustajabnya doa.

Dari Umar bin Khoththob berkata, Aku mendengar Rosululloh sholallhu’alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya;

“Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir bersama gerombolan musafir dari negeri Yaman yang berasal dari daerah Murod kemudian berdiam di daerah Qorn. Dia diuji oleh Alloh dengan penyakit kusta disekujur tubuhnya kemudian sembuh kecuali tinggal bercakan sebesar dirham di tubuhnya. Dia mempunyai ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah dalam doanya tentu Alloh Ta’ala akan mengabulkannya. Jika kalian mampu agar dia memohonkan ampun kepada Alloh untuk kalian, maka lakukanlah.” (HR. Muslim)

4. Berbakti kepada orangtua merupakan salah satu sarana untuk menghapus dosa

Siapa didunia ini yang tidak memiliki dosa, entah itu dosa kecil atau pun dosa besar yang mengundang kemurkaan Alloh Ta’ala baik didunia maupun diakhirat nanti. Birrul walidain merupakan salah satu sarana yang dapat kita lakukan sebagai penghapus dosa-dosa yang kita miliki. Hal ini sebagaimana hadits Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam.

“Dari Umar bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata: “Wahai Rosululloh sesungguhnya aku telah terjatuh kepada suatu perbuatan dosa besar. Apakah masih ada taubat bagi saya?. Nabi bersabda, Apakah engkau masih mempunyai Ibu? Diapun menjawab, ‘Tidak.’ Apakah engkau masih memiliki bibi dari pihak ibu?. Diapun menjawab,’Ya’. Nabi bersabda; Maka berbuat baiklah kepadanya.” (HR. at-Tirmidzi)
Tentang kedudukan bibi dari pihak ibu Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam pernah bersabda;
“Bibi dari pihak ibu itu kedudukannya sama seperti seorang ibu (ketika ibu telah meninggal). (HR. at-Tirmidzi)

Dari hadits di atas jelas sekali bahwa berbakti kepada kedua orang tua terutama kapada seorang ibu bisa menghapuskan dosa-dosa seseorang sekalipun dosa yang dimilikinya adalah dosa yang besar tentunya dengan izin Alloh Subhanahuwata’ala.

5. Berbakti kepada orangtua merupakan jalan menuju Jannah.

Tentu semua orang sangat menginginkan untuk menjadi salah satu penghuni Surga atau Jannah yang penuh dengan kenikmatan. Berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan salah satu sarana untuk seseorang yang ingin memasuki jannah. Dalam hal ini, ada hadist yang disampaikan oleh imam Al Baihaqi yang artinya:

“Dari Aisyah dia berkata, Rosululloh bersabda: ‘Aku telah bermimpi berada di dalam surga, maka aku mendengar seorang pembaca yang melantunkan bacaan.’ Akupun bertanya siapakah dia? Maka malaikat pun menjawab dia adalah sahabat Haritsah bin an-Nu’man . Maka Rosululloh menjawab itulah berbakti. Itulah berbakti. Dia adalah sebaik-baik manusia yang berbakti kepada ibunya.’ (HR. al Baihaqi)

Di dalam riwayat yang lain disebutkan.

Dari Abu Hurairoh dia berkata, Rosululloh bersabda, “Sungguh celaka, sungguh celaka, Sungguh celaka.” Dikatakan oleh Para sahabat siapakah mereka wahai Rosululloh . Nabi menjawab, yaitu mereka yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut akan tetapi tidak memasukkan kedalam jannah.” (HR. Muslim)

Jika selama ini kita telah berbakti kepada kedua orang tua, maka bersyukurlah dengan karunia yang telah Alloh berikan tersebut. Mudah-mudahan kita mendapatkan semua dari keutamaan-keutamaan berbakti kepada orangtua tersebut. Selanjutnya berusahalah istiqomah karena memang ini bukan amalan yang mudah. Adapun jika selama ini kita tidak paham akan keutamaan berbakti kepada orang tua, maka mulailah dari sekarang dan jangan ditunda lagi. Inilah ladang kita meraup pahala sekaligus pintu kita masuk surga. Semoga kita selalu dimudahkan dalam birul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua kita. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat baik bagi kami maupun bagi kaum muslimin secara umum Wallohu a’lam bishowab. Jazakalloh khoir telah berkunjung.

Sekian blog saya ini tentang cinta kasih kepada orangtua. semoga bermanfaat bagi kita semua. Tetap berbakti kepada orangtuamu :)

Wassalamu,allaikum Wr.Wb.

Daftar Pustaka :

Rabu, 07 Januari 2015

ILMU SOSIAL DASAR : Agama

AGAMA

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.
Definisi tentang agama di sini sedapat mungkin sederhana dan meliputi. Definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit maupun terlalu longgar, tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Agama merupakan suatu lembaga atau institusi yang mengatur kehidupan rohani manusia. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.
Berdasarkan cara beragamanya:
1.    Tradisional, yaitu cara beragama berdasar tradisi. Cara ini mengikuti cara beragama nenek moyang, leluhur, atau orang-orang dari angkatan sebelumnya. Pemeluk cara agama tradisional pada umumnya kuat dalam beragama, sulit menerima hal-hal keagamaan yang baru atau pembaharuan, dan tidak berminat bertukar agama.
2.    Formal, yaitu cara beragama berdasarkan formalitas yang berlaku di lingkungannya atau masyarakatnya. Cara ini biasanya mengikuti cara beragamanya orang yang berkedudukan tinggi atau punya pengaruh. Pada umumnya tidak kuat dalam beragama. Mudah mengubah cara beragamanya jika berpindah lingkungan atau masyarakat yang berbeda dengan cara beragamnya. Mudah bertukar agama jika memasuki lingkungan atau masyarakat yang lain agamanya. Mereka ada minat meningkatkan ilmu dan amal keagamaannya akan tetapi hanya mengenai hal-hal yang mudah dan nampak dalam lingkungan masyarakatnya.
3.    Rasional, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan rasio sebisanya. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan pengetahuan, ilmu dan pengamalannya. Mereka bisa berasal dari orang yang beragama secara tradisional atau formal, bahkan orang tidak beragama sekalipun.
4.    Metode Pendahulu, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan akal dan hati (perasaan) di bawah wahyu. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan ilmu, pengamalan dan penyebaran (dakwah). Mereka selalu mencari ilmu dulu kepada orang yang dianggap ahlinya dalam ilmu agama yang memegang teguh ajaran asli yang dibawa oleh utusan dari Sesembahannya semisal Nabi atau Rasul sebelum mereka mengamalkan, mendakwahkan dan bersabar (berpegang teguh) dengan itu semua.

Menurut Leight, Keller dan Calhoun, agama terdiri dari beberapa unsur pokok:
·         Kepercayaan agama, yakni suatu prinsip yang dianggap benar tanpa ada keraguan lagi
·         Simbol agama, yakni identitas agama yang dianut umatnya.
·         Praktik keagamaan, yakni hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan-Nya, dan hubungan horizontal atau hubungan antarumat beragama sesuai dengan ajaran agama
·         Pengalaman keagamaan, yakni berbagai bentuk pengalaman keagamaan yang dialami oleh penganut-penganut secara pribadi.
·         Umat beragama, yakni penganut masing-masing agama

FUNGSI :
·         - Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok
·         - Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
·         - Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah
·         - Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan
·         - Pedoman perasaan keyakinan
·         - Pedoman keberadaan
·         - Pengungkapan estetika (keindahan)
·         - Pedoman rekreasi dan hiburan
·         - Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.




SUMBER :

ILMU SOSIAL DASAR : Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Kemiskinan

Ilmu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan adalah suatu proses pemikiran dan analisis yang rasional, sistimatik, logik dan konsisten. Hasilnya dari ilmu pengetahuan dapat dibuktikan dengan percobaan yang transparan dan objektif. Ilmu pengetahuan mempunyai spektrum analisis amat luas, mencakup persoalan yang sifatnya supermakro, makro dan mikro. Hal ini jelas terlihat, misalnya pada ilmu-ilmu: fisika, kimia, kedokteran, pertanian, rekayasa, bioteknologi, dan sebagainya.”
“ Ilmu pengetahuan” lazim digunakan  dalam pengertian sehari-hari, terdiri dari dua kata, “ ilmu “ dan “ pengetahuan “, yang masing-masing punya identities sendiri-sendiri. Dikalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa ilmu itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis, empiris, umum dan akumulatif. Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana karena bermacam-macam pandangan dan teori (epistemologi), diantaranya pandangan Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi. Dan oleh Bacon & David Home pengetahuan diartikan sebagai pengalaman indera dan batin. Menurut Imanuel Kant pengehuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman. Dari berbagai macam pandangan tentang pengetahuan diperoleh  sumber-sumber pengetahuan berupa ide, kenyataan, kegiatan akal-budi,  pengalaman, sintesis budi, atau meragukan karena tak adanya sarana untuk mencapai pengetahuan yang pasti.

Untuk membuktikan pengetahuan itu benar, perlu berpangkal pada teori kebenaran pengetahuan :

1. Pengetahuan dianggap benar apabila dalil (proposisi) itu mempunyai hubungan dengan dalil (proposisi) yang terdahulu
2. Pengetahuan dianggap benar apabila ada kesesuaian dengan kenyataan
3. Pengetahuan dianggap benar apabila mempunyai konsekwensi praktis dalam diri yang mempunyai pengeahuan itu.

Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya yaitu ; ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Epistemologis hanyalah merupakan cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh ilmu pengetahuan. Ontologis dapat diartikan hakekat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas  ruang lingkup ujud yang menajdi objek penelaahannya. Atau dengan kata lain ontologism merupakan objek formal dari suatu pengetahuan. Komponen aksiologis adalah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan.

Pembentukan ilmu akan berhadapan dengan objek yang merupakan bahan dalam penelitian, meliputi objek material sebagai bahan yang menadi tujuan penelitian bulat dan utuh, serta objek formal, yaitu sudut pandangan yang mengarah kepada persoalan yang menjadi pusat perhatian. Langkah-langkah dalam memperoleh ilmu dan objek ilmu meliputi rangkaian kegiatan dan tindakan. Dimulai dengan pengamatan, yaitu suatu kegiatan yang diarahkan kepada fakta yang mendukung apa yang dipikirkan untuk sistemasi, kemudian menggolong-golongkan dan membuktikan dengan cara berpikir analitis, sistesis, induktif dan deduktif. Yang terakhir ialah pengujian kesimpulan dengan menghadapkan fakta-fakta sebagai upaya mencari berbagai hal yang merupakan pengingkaran.

Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan obyektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah, yang meliputi empat hal yaitu :

1. Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga menacapi pengetahuan ilmiah yang obeyktif
2. Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada
3. Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap indera dam budi yang digunakan untuk mencapai ilmu
4. Merasa pasti bahwa setiap  pendapat, teori maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.

Permasalahan ilmu pengetahuan meliputi arti sumber, kebenaran pengetahuan, serta sikap ilmuwan itu sendiri sebagai dasar untuk langkah selanjutnya.

Teknologi

Dalam konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara akademis dapatlah dikatakan bahwa pengetahuan (body ofknowledge), dan teknologi sebagai suatu seni (state of arts ) yang mengandung pengetian berhubungan dengan proses produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja dan ketrampilan dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi. “secara konvensional mencakup penguasaan dunia fisik dan biologis, tetapi secara luas juga meliputi teknologi sosial, terutama teknoogi sosial pembangunan (the social technology of development) sehingga teknologi itu adalah merode sistematis untuk mencapai tujuan insani (Eugene Stanley, 1970).
Teknologi memperlihatkan fenomenanya alam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis. Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul “the technological society” (1964) tidak mengatakan teknologi tetapi teknik, meskipun artinya sama. Menurut Ellul istilah teknik digunakan tidak hanya untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk memperoleh hasilnya, melainkan totalitas  metode yang dicapai secara rasional dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap bidang aktivitas manusia. Jadi teknologi penurut Ellul adalah berbagai usaha, metode dan cara untuk memperoleh hasil yang distandarisasi dan diperhingkan sebelumnya.
Fenomena teknik paa masyarakat ikini, menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagia berikut :
1. Rasionalistas, artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional
2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis. Demikian juga dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis  menjadi kegiatan teknis
4. Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
5. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung
6. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
7. otonomi artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.

Teknologi yang berkembang denan pesat meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Luasnya bidang teknik digambarkan sebagaia berikut :
1. Teknik meluputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang industri. Dengan teknik, mampu mengkonsentrasikan capital sehingga terjadi sentralisasi ekonomi
2. Teknik meliputi bidang organisasional seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum dan militer
3. Teknik meliputi bidang manusiawi. Teknik telah menguasai seluruh sector kehidupan manusia, manusia semakin harus beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi manusia yang bebas dari pengaruh teknik.

Alvin Tofler (1970) mengumpakana teknologi itu sebagai mesin yang besar atau sebuah akselarator (alat pemercepat) yang dahsyat, dan ilmu pengetahuan sebagai bahan bakarnya. Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan secara kuantitatif dan kualtiatif, maka kiat meningkat pula proses akselerasi yagn ditimbulkan oleh mesinpengubah, lebih-lebih teknologi mampu menghasilkan teknologi yang lebih banyak dan lebih baik lagi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional seperti kemiskinan.





Kemiskinan

Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan  apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal :

1. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
2. Posisi  manusia dalam lingkungan sekitar
3. Kebutuhan objectif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi

Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat istiadat, dan sistem nilai yang dimiliki. Dalamhal ini garis kemiskinan dapat tinggi atau rendah. Terhadap posisi manusia dalam lingkungan sosial, bukan ukuran kebutuhan pokok yang menentukan, melainkan bagaimana posisi pendapatannya ditengah-tengah masyarakat sekitarnya. Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi ditentukan oleh komposisi pangan apakah benilai gizi cukup dengan nilai protein dan kalori cukup sesuai dengan tingkat umur, jenis kelamin, sifat pekerjaan, keadaan iklim dan lingkungan yang dialaminya.

Kesemuanya dapat tersimpul dalam barang dan jasa dan tertuangkan dalam nilai uang sebgai patokan bagi penetapan pendapatan minimal yang diperlukan, sehingga garis kemiskinan ditentukan oleh tingkat pendapatan minilam ( versi bank dunia, dikota 75 $ dan desa 50 $AS perjiwa setahun, 1973) ( berapa sekarang ? ).

Berdasarkan ukuran ini maka mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki cirri-ciri sebagai berikut :

1. Tidak memiliki factor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan. Dll
2. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan ataua modal usaha
3. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai taman SD
4. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas
5. Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan.

Kemiskinan menurut orang lapangan (umum) dapat dikatagorikan kedalam tiga unsure :

1. Kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun mental seseorang
2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam

3. Kemiskinan  buatan. Yang  relevan dalam hal ini adalah kemiskinan buatan, buatan manusia terhadap manusia pula yang disebut kemiskinan structural. Itulah kemiskinan yang timbul oleh dan dari struktur-struktur  buatan manusia, baik struktur ekonomi, politik, sosial maupun cultural. Selaindisebabkan oleh hal – hal tersebut, juga dimanfaatkan oleh sikap “penenangan” atau “nrimo”, memandang kemiskinan sebagai nasib, malahan sebagai takdir Tuhan. Kemiskinan menjadi suatu kebudayaan atau subkultur, yang mempunya struktur dan way of life yang telah turun temurun melalui jalur keluarga. Kemiskinan (yagn membudaya) itu disebabkan oleh dan selama proses perubahan sosial secara fundamental, seperti transisi dari feodalisme ke kapitalisme, perubahan teknologi yang cepat, kolonialisme, dsb.obatnya tidak lain adalah revolusi yang sama radikal dan meluasnya.